azcaimut.blogspot.com blogger"nya buat para petani tanya jawab tentang pertanian salam sukses dari kami cv sumber tani karangkobar

CARA MEMBASMI HAMA WERENG

                                                                 CARA MEMBASMI WERENG

Petani pun Punya Senjata Baru Atasi Wereng
Serangan hama wereng batang coklat atau Nilaparvata lugens hampir selalu merepotkan para petani padi. Pasalnya, selain menimbulkan dampak yang besar hingga gagal panen, hama ini juga berperan sebagai pembawa virus kerdil pada tanaman padi. Kini petani tidak perlu khawatir lagi, karena telah ada paket pestisida antiwereng yang memadukan dua bahan aktif sekaligus dalam satu paket produk.

Sekitar tujuh tahun yang lalu, hamparan padi di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah terserang hama wereng coklat yang cukup parah. Kecuali Haji Sahlan, hampir semua petani di desa tersebut mengalami gagal panen.

“Alhamdulillah kita masih bisa panen 80 persen,” terang Haji Sahlan saat ditemui Abdi Tani di kediamannya. Ia sendiri memiliki lahan padi seluas 15 bahu (sekitar 10,5 ha) yang tersebar di dua desa di Kecamatan Pecangaan.

Menurut Haji Sahlan, saat itu penggunaan pestisida untuk mengatasi serangan wereng di desanya masih sembarangan dan tidak sesuai dengan hama sasarannya. “Angger wong ngomong yo iku sing digawe (setiap omongan orang, ya itulah yang dipakai petani-red). Petani sudah tidak memikirkan itu benar atau tidak, mahal atau murah, sing penting piye carane ngatasi wereng (yang penting bagaimana cara mengatasi wereng,” ujarnya.

Lantaran belum adanya sosialisasi dan arahan yang tepat mengenai pengendalian hama wereng, termasuk penggunaan pestisida yang tepat sasaran, itulah yang membuat hampir semua petani padi di wilayah Karangrandu mengalami gagal panen. Beruntung bagi Haji Sahlan, tanaman padinya masih bisa selamat meskipun tidak semuanya bisa dipanen.

Lain dulu, lain sekarang. Kini Haji Sahlan sudah memiliki ‘senapan’ baru untuk mengatasi serangan wereng. Semenjak mengenal Paket Pestisida Antiwereng dari Cap Kapal Terbang yang berisi insektisida Winder 100EC dan Promectin 18EC, ia mengaku tidak perlu risau lagi saat menghadapi serangan hama tersebut. Ia sendiri termasuk pecinta produk pestisida dari merek dagang yang diusung oleh PT. Tanindo Intertraco ini.

“Pokoke angger Cap Kapal Terbang kulo mesti oke (pokoknya asalkan dari Cap Kapal Terbang saya pasti oke),” ujar petani berumur 62 tahun ini. Sebelum menggunakan Paket Antiwereng tersebut, ia biasa menggunakan insektisida Promectin ataupun Trisula untuk mengatasi serangan hama pada tanaman padi miliknya.

Meskipun harga paketnya sedikit lebih mahal dari pestisida yang lain, hal itu bukan suatu masalah bagi Haji Sahlan. Ia mengibaratkannya dalam istilah Bahasa Jawa “kalah tuku, menang ngganggo”, atau dengan kata lain, meskipun harganya lebih mahal, tapi keampuhannya luar biasa. Bahkan, dari hasil perhitungannya sendiri, dengan menggunakan Paket Antiwereng itu ia justru bisa lebih menghemat biaya penyemprotan hingga separonya.

“Hasil akhirnya kita malah bisa berhemat. Karena memang lebih ampuh. Biasanya, dengan pestisida lain butuh empat kali semprot, tapi dengan (Paket) Antiwereng ini cukup dua kali saja,” tutur Haji Sahlan.

Ia pun menggunakan Paket Antiwereng tersebut di saat intensitas serangan hama wereng coklat lebih tinggi. Di saat intensitas serangannya biasa-biasa saja, ia cukup menggunakan insektisida Trisula untuk mengendalikan. “Saya pakai Paket Antiwereng ini kalau pas parah saja. Kalau kondisinya biasa, ya saya cukup pakai Trisula,” ungkap Haji Sahlan.

Sangat cespleng
Keampuhan Paket Pestisida Antiwereng tersebut juga diakui oleh para petani padi di Demak, Jawa Tengah. Seperti, Ahmad Sohib, Masruri, dan Sukri dari Desa Surodadi, Kecamatan Gajah, Demak. Mereka sudah menggunakan paket pestisida tersebut selama dua musim terakhir.

“Alhamdulillah, dengan adanya Paket Antiwereng, upaya petani di sini dalam mengatasi serangan wereng menjadi lebih ringan. Paket ini memang senjata yang sangat cespleng (manjur-red), terutama untuk serangan wereng yang parah,” ungkap Ahmad Sohib yang juga Ketua Kelompok Tani Sidoasih Desa Surodadi.

Dengan menggunakan dua insektisida dengan bahan aktif yang berbeda, yaitu: Winder 100EC yang berbahan aktif Imidakloprid 100 g/L dan Promectin 18EC yang berbahan aktif Abamektin 18 g/L, serta didaya berantasnya menjadi lebih optimal.

Menurut Masruri, petani di daerahnya biasa melakukan penyemprotan Paket Antiwereng saat mulai ada serangan sampai dengan sesaat menjelang panen. “Semprotnya seminggu sekali dengan dosis satu tutup per tangki,” ujarnya.

Selain karena penggunaan pestisida yang benar dan tepat sasaran, keberhasilan petani padi di Surodadi dalam mengendalikan serangan wereng coklat juga ditentukan oleh pengelolaan tanaman di wilayah mereka yang sudah teratur.

“Petani di sini sudah menerapkan sistem tanam serempak, ya kalaupun ada selisih penanaman, maksimal sepuluh hari. Koordinasinya juga sudah bisa terjalin baik di antara masing-masing petani. Sehingga kalau ada permasalahan bisa segera diatasi dengan baik. Alhamdulillah, saat di beberapa daerah mengalami gagal panen karena serangan wereng, wilayah kami tidak ada yang sampai gagal panen,” ujar Sohib yang mengkoordinir para petani di Surodadi.